Search
  • Sagi Sagara

The Little Handbook for Big Career



So this week, I read this book.

Buku nya cukup ringan dan menyenangkan untuk dibaca karena ditulis dengan gaya story-telling, dimana penulis mba Riffa Sancati dalam 209 halaman menceritakan bagaimana beliau menapaki career ladder yang setiap anak tangganya has their own unique story dengan ups and downs yang cukup relatable bagi kita (khususnya saya sebagai millennial yang hidup di jaman serba instant, where everyhing is just a click away, including job application) karena sekarang kita (read: millennials) bisa melamar pekerjaan through emails dan tentu saja LinkedIn which are very convenient dan lagi-lagi instant.

I would say, buku ini sangat relevant untuk dibaca oleh siapa pun, regardless of background bisa professionals seperti saya, bisa artists (pelukis, penulis, sculptor, dll), dan sangat-sangat relevant untuk fresh graduates yang akan mengarungi dunia kerja yang penuh rintangan sekaligus opportunities to grow and be better.

Sebenernya banyak banget cerita dalam 209 halaman ini yang bisa saya ambil pelajaran, tapi kalau saya boleh summarize in just 3 points, I would say the following are the top 3 teachable moments to learn from mba Riffa:

#1 Leverage LinkedIn

Di 2020 ini, social media is taking over the world by storm. Semua orang punya sosmed dari anak-anak sampai orang dewasa. Pilihanya pun beragam. Ada Instagram, TikTok, Twitter, Facebook, Snapchat...apalagi ya ha ha...yang pasti LinkedIn.

Buku ini membahas bagaimana kita selaku professional bisa memaksimalkan platform ini untuk grow our network, untuk berbagi informasi positif dan mungkin bisa dapat perkerjaan impian.

Menulis di LinkedIn merupakan salah satu tip yang sangat hands-on menurut saya. Karena dengan kita menulis, bukan hanya kita berbagi insights dengan kawan-kawan LinkedIn, tapi kita pun dituntut untuk membuka mata dan telinga. Artinya untuk bisa menulis di LinkedIn kita jadi secara tidak langsung baca koran (banyak banget yang bisa dibaca dari yang free sampai subscription-based seperti Wall Street Journal, Financial Times, Jakarta Post, and many other online newspaper). Selain newspaper ada radio, webcasts, dan baca buku-buku yang relevant dengan perkembangan not only in Indonesia but around the world.

Hal ini membuat saya tergerak untuk mencoba mulai active menulis di LinkedIn. Jadi daripada fokus di sosmed lain, bagi saya dengan fokus di LinkedIn akan sangat membantu saya untuk networking like a ninja ha ha. In a fun way, of course.

#2 Control what you can and learn to accept things that are out of your control

Hmmm...point ke dua ini cukup menantang bagi saya. Karena sebagai manusia biasa, kita banyak maunya (at least saya pribadi). It's all about me. Everything should go according to what I deem good and best for me. Tapi hidup ini tidak seperti drama atau TV series yang bisa diakhiri dengan selalu happy ending. After all, those happy endings are happy endings because we don't know what happens after the prince and princess ride that horse to a far far land...ha ha.

Sama seperti dunia kerja. Banyak sekali hal-hal yang akan mengejutkan kita. Seperti ada technical skills yang mungkin dulu di bangku kuliah tidak pernah dipelajari sampai dengan soft skill yang sangat dibutuhkan...good communication.

Dari buku ini saya belajar bahwa banyak sekali conflict, masalah, dan incident di kantor yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau everyone is communicating with one another. Artinya kita perlu lebih terbuka antara atasan dan bawahan, sesama staf dan divisi lain untuk menyampaikan apa yang kita butuhkan.

Point ini hits me right on the spot. Karena saya pribadi pernah mengalami hal ini. Had I communicated openly, the problem that I had would not have occurred. Lagi-lagi, kita belajar dari kesalahan karena ada pepatah bilang smart people learn from their mistakes, but wise people learn from other people's mistakes.

Dan senjata pamungkas dari control what you can adalah be resilient. At the end of the day, it's not how many times you fall - what matters is how many times you bounce back. Jadi walaupun kita pernah berbuat kesalahan, pekerjaan kita tidak sesuai ekpektasi atasan, atau pernah punya konflik dengan co-workers yang terpenting kita selalu strive to not repeat the same mistakes and improve what we can improve.

#3 It's your journey, not someone else's

Tiap hari kita disuguhkan berita baik di sosmed, TV dan lainya tentang CEO muda, pengusaha sukses, milyarder muda, intinya cerita-cerita sukses yang terkadang membuat kita bertanya (at least saya):

  • Wah, hebat ya dia masih muda udah bisa masuk Forbes 30 under 30

  • Wihh, pasti dia beruntung banget masih muda udah bisa bangun rumah mewah

  • Hmmm...kok gue di usia segini masih biasa-biasa aja ya

Dan masih banyak self-talk seputar hal ini. Tapi buku mengingatkan kembali bahwa everyone has their own timing. You can disagree with me, tapi menurut saya Tuhan pasti punya timing nya sendiri. Dengan mindset seperti ini, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya punya saat ini. Bersyukur dari hal-hal sederhana seperti, masih bisa makan disaat di luar sana banyak orang kelaparan, bisa naik Ojol di saat banyak orang yang mungkin harus jalan kaki, bisa punya pekerjaan tetap di saat di luar sana masih banyak orang yang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan.

Dan saya juga belajar untuk re-frame those success stories not as materials to self-critique but as information that can help motivate myself. Jadi narrative nya dirubah menjadi:

  • Oh...ternyata mungkin lo kita sukses di usia muda

  • Ternyata bisa juga ya diusia muda bikin startup

  • Oh...kalau mau S2 nga harus tunggu 30an dulu

To conclude:

Saya ingin berterima kasih ke Mba Riffa atas buku ini. Such a gem! What I love the most itu bagian My Thank-You Note...dimana bendungan air mata itu tumpah setelah menyelesaikan buku ini. Dan sebenernya story-telling seperti ini yang lebih mengena di hati. Satu point pamungkas yang saya pelajari adalah setiap proses yang kita lalui itu selalu punya makna. Setiap masalah yang pernah jadi batu sandungan pasti punya hikmah. Setiap orang yang kita temui pasti punya cerita. Dan setiap cerita pasti punya pelajaran yang bisa dipetik. Jadi selalu jadikan setiap peristiwa yang kita alami baik senang maupun sedih sebagai teachable moments.

Happy reading, people...

#BookReview

1 view0 comments

Recent Posts

See All

I soul-searched. Walked for 1.5 hours. Each head has their own opinions. Sought pleasure. Found revelation. Feet numb. Confessed, I was addicted and broken. Back pain and empty stomach for? Saturday,