• Sagi Sagara

Jakarta


Took at GBK on Sun, Aug 23, 2020 at around 8 PM.

So I jogged at GBK today.

Was accompanied by a friend from work.

Discussed a bit how we were raised as a kid.

Why we came out here.

Why Jakarta.

Yes, why?


Jakarta adalah ibukota, tapi kan secara rencana pembangunan jangka panjang akan dipindahkan ke Kalimantan, so the city will remain as the Indonesian business hub.

A place where Indonesians go to work.

Where dreams are made of.


I know maybe for some people, for a lot of people this city is just a city.

But still to this day, I am amazed at these skyscrapers and big buildings.


Banyak orang bilang kalau bisa bertahan di Jakarta artinya bisa hidup dimanapun di Indonesia.

Tapi saya sendiri masih sangsi...

It's not that scary or hard to live here.

Mungkin ini subjective ya, but I feel like everyone can make a living here.


Ya harus saya akui saya beruntung karena datang ke kota ini dengan bekal Sarjana.

I know that higher education does not guarantee intelligence.

Tapi untuk bisa bersaing di kota ini bekal pendidikan itu penting.


Sudah dari 2016 saya merantau di sini.

It doesn't feel that far away from home.

Apalagi dengan adanya Tol Cipali.

Pokoknya semua infratruktur yang dibangun dan akan dibangun sangat memperkecil jarak.

Jadi Jakarta bukan berasa di dunia lain, if that makes sense.


4 tahun.

Sudah 4 tahun saya tinggal di sini.

Masih banyak banget yang ingin saya raih.

Ingin A, B, C, D...

The list is not exhaustive (ha ha)...

Dari 4 tahun ini banyak sekali yang telah terjadi.

The good, the bad, and the ugly.

Saya sadar kategori tersebut really depends on from where you stand.

Cause perspective shapes your perception of things.


Saya sadar, temen yang saya punya di kota ini bisa dihitung jari.

What I mean by teman adalah orang-orang yang nyambung.

1 frekuensi dengan saya.

Teman yang bukan sekedar rekan kantor yang hanya ada keperluan untuk pekerjaan.

Tapi orang-orang yang bisa diajak diskusi bertukar pikiran.


Di Jakarta walaupun ramai tapi saya merasa kesepian.

Kesepian karena I long for home.

Karena I feel like I don't belong here.

Karena this whole quarantine I guess.

Tapi most of all, this is again my perception.


Back to the beginning...

Jadi dari mulai kuliah saya sudah putuskan untuk hanya bekerja di Jakarta.

Karena UMR nya paling tinggi.

Kesempatan networking terbuka luas.

Semua perusahaan bagus berkantor pusat di Ibukota (sampai hari ini).

This city is the Indonesian melting pot.

Semua orang dari seluruh provinsi di Indonesia ada di sini.

Semua kesempatan terbukan luas.

Tinggal bagaimana saya menggunakan waktu yang hanya 24/7 ini sebaik mungkin.

Karena waktu sangat berharga.

Time is the only resource that is not renewable.

Apa yang telah pergi ya hilang.

Apa yang telah berlalu tidak akan kembali lagi.

Apa yang telah terjadi terjadi.

There's no rewind.

There's no extra time.


Tapi yang saya pelajari juga dari pengalaman.

I know saya orang nya kurang sabaran.

Selalu pengen cepet.

Sedangkan kecepatan belum tentu baik.

Semua butuh proses.

Dan setiap orang punya proses nya masing-masing.


Jadi kadang walaupun melihat orang di usia yang sama bisa meraih lebih, it's their way, not mine.

Tapi mungkin yang bisa di-custom adalah how we plan things.

How we live our day-to-day lives.

It's not as simple as it sounds.

Banyak banget hurdles yang harus ditaklukan.

Baik dari luar: teman, pergaulan, lingkungan, peer-pressure, options.

Dari dalam: keinginan dan conscious decisions that I have to make.


There are things that I regret doing.

There are also things that I don't regret doing.

Sedangkan untuk bisa menggapai apa yang ada dipikiran saya saat ini membutuhkan waktu sekitar 10 tahun.

10 tahun?

Yes, 10 f* years!

1 dekade.

Is there any shortcut?

Sadly no.

Tapi ada, kalau saya bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

This is where time management kicks in.


Mungkin sekarang saya sedang "bener".

Bener dalam artian berpikir wise.

Cause smart people learn from their mistakes, but intelligent people learn from other people's mistakes.

And I want to be from the second one.


Jadi untuk menemani marathon panjang ini.

Mari kita tutup tulisan ini dengan sebuah lagu indah.

Dari seorang musisi yang authentic.

Lagunya sangat sederhana.

Lirik nya sangat sederhana.

Melodinya sangat sederhana.

Kadang yang kita butuhkan adalah kesederhanaan bukan yang lain.


I would like to close this piece of me through this song...Jakarta Ramai by Maudy Ayunda...enjoy!

#Jakarta


~ Selamat tidur, Jakartans ~

Semoga tidur lelap dan nyenyak...

3 views

Recent Posts

See All

Sate Ayam Bumbu Kecap

Curhatan malam ini... Starved! I already ate black rice and nuggets...still... So I went out to grab these Sate Ayam SMA 3 Jakarta... Digging my food accompanied by Mayday songs... And felt the urge t

C U R I O S I T Y

Mungkin berbagai hal yang sekarang gue alami adalah buah dari keisengan semata. Coba-coba. Penasaran. Pengen aja nyoba. Gimana ya rasanya kalau gue di posisi itu? Is this good enough? Is there anythin

الْفَاتِحَة

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِم

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now