• Sagi Sagara

Mama


Hari ini 22 Agustus 2020, satu minggu semenjak Indonesia merayakan kelahiranya 75 tahun lalu.

Tidak terasa sudah 3/4 abad negara ini merdeka.

Banyak yang sudah berubah.

Banyak perkembangan.

Namun masih ada juga hal-hal lain yang masih tertinggal.


Semenjak saya kuliah, saya meninggalkan rumah.

Saya anak terakhir dari 5 bersaudara.

Jadi sebagai anak terakhir, saya waktu masih SMA hanya tinggal berdua dengan ibu saya.

Lalu semenjak kuliah dan bekerja sudah hidup sendiri, merantau dan mencari penghasilan sendiri - belajar hidup mandiri.


Distance makes the heart grow fonder - a proverb that is really popular.

Tapi baru bisa saya cerna setelah mulai merantau.

I used to take my mum's presence for granted, hardly appreciating all that she did for me.

Tapi semenjak merantau, lebaran dan waktu bisa pulang ke rumah merupakan moment yang sangat berharga.


Alhamdulilah, mama masih sehat di usia nya yang menginjak 56 tahun.

Ada banyak hal yang ingin saya wujudkan dalam masa hidup beliau.

Lalu, lagu Ibu Kita Kartini hits differently.

The visuals are lit. But I wonder why the views are very low.

Maybe, not much people appreciate this type of music, but I do.


Jadi I know saya nga bisa nangis-nangis kaya di sinetron.

I hate drama. A lot.

But when it comes to her.

I am the drama.

Kaya tiap kali kepikiran, bisa langsung nangis in that instance.

I'm crying RN.


Jadi kalau diinget-inget, mama adalah sosok Kartini yang paling bisa saya relate.

Why?

Dia berkorban banyak banget untuk bisa membesarkan 5 orang anaknya.

Kita semua di sekolah kan, diberikan bekal S-1.

Walaupun beliau hanya lulusan SMEA (jaman dulu ada SMEA, mungkin sekarang orang kenalnya SMA).

Tapi perjuangan beliau untuk membesarkan anak-anaknya luar biasa.


Kadang kalau diinget sampai sekarang saya masih bertanya...

"Kenapa ya mama bisa berkorban sebesar itu?"

Kadang kalau dipikir-pikir pake logika, she could have done otherwise.

Tapi ya itu...saya pun sempat nanya langsung ke beliau...

"Mah, kenapa sih harus berkorban kaya begitu*?"

* (private).

And her answer...

"Ya karena mama harus memperjuangkan anak-anak mamah..."

Ya...jadi mewek lagi kan...ha ha...


Sampai saat ini hanya ada 1 penjelasan kenapa seorang ibu rela melakukan apapun buat anaknya.

Kasih sayang...

I know it's an abstract concept, but this is the only explanation that makes sense.

Karena kalau dipikir pake logika, what she did was beyond words.


Even sampai saat ini, she still thinks about her children.

Even if we forget her or not living up to her expectations.

Mangkanya I'm really grateful to have been born from a strong woman.

Her strength thought me that everything is possible.

Kerja keras itu apapun outcome nya akan tetap lebih baik daripada not doing anything.


Dan saya belajar banyak tentang kesabaran.

Whoops...ini susah sih.

Kadang bingung juga kenapa bisa jadi orang sesabar beliau.

Again, kesabarannya luar biasa.


Dan kebaikan beliau ini luar biasa.

Kadang mikir kenapa ya mamah ini baik banget ama orang.

But she does what she does.


Jadi walaupun she wasn't a pushy parent.

Bukan orang tua yang strict yang selalu bilang...

Pokoknya harus gini-gini...

Harus ranking 1...

Harus bangun jam segini...

Harus kerja di sini...

Beliau bener-bener lepas...

Jadi mungkin actions beliau yang tertanam di otak sampai saat ini.


Walaupun now I am an adult, her actions are still with me.

Jadi I distill her values and still carry it with me.

Mangkanya mungkin orang atau temen-temen saya ada yang bilang:

"Gi, ko lu sabar banget?"

"Gi, marah dong?"

And all these other questions...

Kayaknya ini semua emang values that have been ingrained in me.


So, every mother has their own style of educating her kids.

And apa yang dilakukan ibu saya dengan ibu orang lain might be totally different.

Jadi mungkin, saya hanya bisa menunjukan betapa saya mengapresisasi beliau dari apa yang saya lakukan.

Because she shows me that actions speak louder than words.


Jadi, walaupun hari ini bukan Hari Ibu, saya ingin mengingatkan bagi kalian (kalau ada yang membaca) bahwa sayangi lah ibu kalian.

Appreciate them.

Selagi ada waktu, pikiran dan materi.

Selalu bahagiakan mereka.

Walaupun surga tidak berada di bawah kaki ibu, tetap I'd do anything for my mum.

And you guys should do the same.


Terakhir, terima kasih kepada semua wanita di luar sana.

Kalian yang bekerja jadi ibu rumah tangga.

Jadi guru.

Koki.

Kerja di pabrik.

Profesor.

Dokter.

Apapun profesinya kalian sangat mulia dan berharga karena dari rahim kalian lah lahir anak-anak yang akan jadi keturunan dan melanjutkan hidup.


Oh dan satu lagi, melahirkan bukan hal mudah.

I know I will never ever ever be able to fully comprehend bagaimana rasanya melahirkan.

Tapi dari penjelasan ilmiahnya...it is such a painful process.


Aduh, udah ah jadi mewek lagi nih.


Selamat Hari Ibu untuk semua ibu di seluruh dunia.


#HariIbu

3 views0 comments

Recent Posts

See All

Subuh

There's this feeling of calmness. Stillness. Peace. Subuh punya energi yang berbeda. Ada suatu energi yang menenangkan. Feels like all my worries are gone once I breathe the air. Subuh is magical.

Bedroom

Wish to turn off all lights. Cover my body in the bedcover. Tun off my phone. Be alone. Be still at darkness.

Back at it

Feeling so tired but can't seem to sleep. Wanting to go to a quite place. Be an outcast for a month at least. Menjelajah tempat baru and truly be anonymous. Apakah mungkin? Mungkin mimpi men jadi writ